http://ejournal.iaknkupang.ac.id/ojs/index.php/teuo/issue/feed Matheteuo: Religious Studies 2025-12-23T20:27:07+08:00 Leryani Mince Maria Manuain manuainlery@gmail.com Open Journal Systems <p>Mathetheuo means 'student' or 'student'. It is found in the OT in 1 Chr. 25: 8; Isa 8:16; 50: 4; 54:13. the teacher-student relationship was a common feature of the ancient world; there, the Greek philosophers and the Jewish rabbis gathered several disciples or students. In NT times such customs still existed, and the word generally referred to people who received teachings from others, for example, the teachings of John the Baptist (Matt. 9:14; John 1:35), teachings of the Pharisees (Mk 2:18; Luke 5:33), and the teachings of Moses (John 9:28). The most common use of the word is to denote Jesus' followers in a general sense (as in Matt. 10:42; Luke 6:17; John 6:66), or specifically to the 12 disciples (Matt. 10: 1; 11: 1), who left everything to follow Jesus.</p> http://ejournal.iaknkupang.ac.id/ojs/index.php/teuo/article/view/638 Integrasi Nilai-Nilai Toleransi dalam Kurikulum PAK di Sekolah: Analisis Konten Kurikulum Kelas X, XI, XII SMA 2025-06-28T11:43:19+08:00 Shara Viktoria Ina Otemusu inaotemusu06@gmail.com Irsanti septiana kono septianasanti@gmail.com Novri Daiyane Baitanu novribaitanu@gmail.com Angelt liufeto Angeltliufeto@gmail.com Edison Benu addhy.benu.789@gmail.com <p>Penelitian ini menganalisis integrasi nilai-nilai toleransi dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) untuk kelas X, XI, dan XII SMA di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Konten kurikulum Pendidikan Agama Kristen (PAK) SMA, buku teks dan panduan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai toleransi dintegrasikan dengan ajaran tentang firman Tuhan, mengenai kasih, keadailan, serta pelayanan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar materi PAK telah memuat unsur nilai toleransi, seperti penghargaan terhadap perbedaan agama, budaya, dan pandangan hidup. Namun, masih terdapat ruang untuk penguatan implementasi nilai-nilai tersebut melalui pendekatan pedagogis yang lebih kontekstual dan interaktif. Hakikat proses pembelajaran pendidikan dapat di sajikan dalam konteks multikultural. Dengan adanya pelajaran pendidikan agama kristen di sekolah dapat membantu memberikan pemahaman bagi peserta didik yang multikultural khususnya dalam pembelajaran pendidikan agama kristen. Pendidikan agama kristen ini ada untuk menjadi jembatan antar suku dan budaya sehingga terdapat nilai-nilai toleransi dalam iman kristen untuk mengimplementasikan iman dan praktik kehidupan, peserta didik harus saling menghargai dan mengasihi seperti yang di ajarkan&nbsp; Tuhan Yesus kepada setiap umat yang beriman. Pendidikan agama sangat berpengaruh karena pembelajaran pendidikan agama Kristen memiliki pendekatan dan kurikulum yang dapat mempengaruhi berbagai ragam agama dan budaya dari setiap siswa yang ada. Melalui pendidikan agama &nbsp;kristen dapat memberikan&nbsp; kontribusi terhadap sikap toleransi dan karakter kepedulian sosial di sekolah. Tujuan dari pelajaran pendidikan agama kristen yaitu untuk mengajarkan prinsip-prinsip yang didalamnya meliputi; nilai-nilai moral seperti kasih, pengampunan, keadilan, persaudaraan kepada setiap siswa. Pendidikan agama kristen dengan sikap toleransi yang ada dapat membantu siswa untuk memahami dan menghargai perbedaan agama yang ada. Tolernansi menjadi nilai yang sangat penting dalam masyarakat yang multikultural dan pluralisme ini, sehingga Pendidikan Agama Kristen perlu menanamkannya secara tersistematis.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> 2025-12-17T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 shara viktoria ina otemusu, Irsanti septiana kono, Novri Daiyane Baitanu, Angelt liufeto, Edison Benu; Ferdinant Alexander http://ejournal.iaknkupang.ac.id/ojs/index.php/teuo/article/view/704 Penerapan Disiplin Rohani sebagai Bentuk Spiritual Formation bagi Mahasiswa Teologi 2025-08-22T15:01:28+08:00 Karlitu Dias Markes tubagussteven@gmail.com Janeke Kuera tubagussteven@gmail.com Steven Tubagus tubagussteven@gmail.com <p>Penelitian bertujuan untuk menemukan rumusan-rumusan dasar dari spiritual formation bagi mahasiswa teologi dengan mengedepankan kedisiplinan rohani yang memiliki cakupan yang luas baik bersifat ritual ceremonial maupun aktual sosial dalam kehidupan kampus. Secara umum sebuah Pendidikan tinggi teologi mengembangkan tiga aspek pokok dalam kepribadian mahasiswa, yakni: <em>Pertama</em>, pengembangan aspek akademik yang terarah pada penguasaan ilmu teologi secara penuh. <em>Kedua</em>, pengembangan aspek ketrampilan pelayanan yang berhubungan kemampuan praktis dalam pelayanan. <em>Ketiga</em> pengembangan rohani yang terarah kepada kehidupa rohani yang semakin dewasa dalam keserupaan dengan Kristus. Dalam penerapannya ketiga aspek ini tidak berdiri sendiri melainkan saling terkait satu sama lain secara integrative. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan tinjauan kepustakaan dimana penulis mengelaborasi beberapa referensi yang behubungan dengan <em>spiritual formation,</em> dan kehidupan kampus teologi. Adapun hasil penelitian ini ialah: <em>Pertama,</em> <em>spiritual formation</em> adalah proses pengembangan rohani yang berawal dari komitmen orang percaya dalam merespon anugerah Allah untuk hidup semakin serupa dengan Kristus. <em>Kedua,</em> <em>formasi Spiritual</em> diinisiasi oleh Allah sendiri bukan semata-mata hasil usaha orang percaya.&nbsp; <em>Ketiga,</em> <em>formasi spiritual</em> mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia yang bersifat ritual seremoni maupun actual sosial. <em>Keempat, </em>Pendidikan teologi merupakan wadah pembentukan rohani yang harus menjadi garda terdepan dalam menerapkan formasi spiritual yang terintegrasi dan holistic bagi individu-individu yang respons terhadap panggilan Allah. &nbsp;</p> 2025-12-23T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Steven Tubagus http://ejournal.iaknkupang.ac.id/ojs/index.php/teuo/article/view/660 Peran Guru PAK dalam Menanamkan Nilai Kasih dan Toleransi terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Masyarakat 2025-07-05T17:17:07+08:00 Inggrid Melani Liunima inggridmelani06@gmail.com Priska Atto priskaatto@gmail.com Arsin owinda Manu arsinmanu@gmail.com Novri Dayane Baitanu novribaitanu@gmail.com Yurendi T.H Nalle yurendinalle@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru pendidikan agama kristen (PAK) dalam menanamkan nilai-nilai kasih dan toleransi kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam lingkungan sosial. Guru PAK memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk karakter siswa agar mampu mengasihi dan menghormati setiap individu tanpa membedakan latar belakang fiisk, sosial, atau intelektual. Melalui pende katan pendidikan yang inklusif, guru PAK berusaha menciptakan suasana belajar yang menghargai keberagaman serta mendorong terbentuknya masyarakat yang ramah bagi ABK. Penelitian ini dilakukan dengan metode study pustaka dan pendekatan deskriptif kualitatif, melalui kajian literatur yang relevan mengenai peran guru PAK, pendidikan karakter, dan penerimaan sosial terhadap ABK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAK tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga menjadi contoh nyata kasih Kristus yang mendorong penerimaan ABK di lingkungan sosial. Guru PAK menggunakan metode pembelajaran yang inklusif dengan pendekatan tematik dan partisipatif, serta aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya nilai kasih dan toleransi. Pelaksanaanya, guru menghadapi tantangan seperti rendahnya pemahaman masyarakat, keterbatasan sarana, serta perlunya pelatihan khusus bagi guru. Penelitian ini menekankan pentingnya peran guru PAK sebagai agen perubahan dalam membentuk masyarakat yang lebih terbuka dan bersahabat terhadap ABK, serta memberikan saran untuk meningkatkan efektivitas peran guru PAK dalam konteks pendidikan dan sosial.</p> 2025-12-23T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 Inggrid Melani Liunima, Priska Atto, Arsin owinda Manu, Novri Dayane Baitanu, Yurendi T.H Nalle http://ejournal.iaknkupang.ac.id/ojs/index.php/teuo/article/view/659 Penerimaan Sosial terhadap Anak Berkebutuhan Khusus di Kelas Pendidikan Agama Kristen: Perspektif Teman Sebaya 2025-07-05T16:15:45+08:00 Shara Viktoria Ina Otemusu inaotemusu06@gmail.com Ketrin Sari Plaikol sariplaikol@gmail.com Fitri Amelia Laka amelialaka01@gmail.com Frendtz Ricardo Baitanu frendtzbaitanu08@gmail.com Febi Hosiana Bien bienfebhy@gmail.com <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerimaan sosial terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK) terjadi dalam konteks kelas Pendidikan Agama Kristen (PAK), khususnya dari perspektif teman sebaya. Dalam lingkungan sekolah inklusif, penerimaan sosial memainkan peran penting dalam keberhasilan proses belajar ABK. Kelas PAK yang menanamkan nilai kasih, penerimaan, dan penghargaan terhadap sesama diharapkan menjadi ruang yang mendukung integrasi sosial semua peserta didik. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, menelaah berbagai sumber ilmiah seperti jurnal nasional dan internasional, buku, serta dokumen pendidikan terkait penerimaan sosial dan pendidikan inklusif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai Kekristenan diajarkan secara eksplisit dalam PAK, penerimaan sosial ABK oleh teman sebaya belum sepenuhnya dipahami dalam praktik. Faktor-faktor seperti stereotip, kurangnya pemahaman tentang ABK, serta ketidaksiapan guru dalam memfasilitasi interaksi sosial, menjadi penghambat utama. Namun, beberapa praktik baik ditemukan, di mana guru PAK berperan sebagai fasilitator nilai-nilai inklusif melalui kegiatan kolaboratif dan refleksi iman. Kesimpulannya, penerimaan sosial terhadap ABK di kelas PAK dapat diperkuat melalui pendekatan nilai Kristiani yang kontekstual, pelatihan guru yang memadai, serta keterlibatan aktif teman sebaya dalam kegiatan pembelajaran yang inklusif. Studi ini merekomendasikan pengembangan kurikulum PAK yang eksplisit mengintegrasikan pendidikan inklusif berbasis nilai kasih dan penerimaan</span></span></p> 2025-12-23T00:00:00+08:00 Copyright (c) 2025 shara viktoria ina otemusu, Ketrin sari plaikol, fitri amelia laka, frendtz ricardo baitanu, febi hosiana bien